Tampilkan postingan dengan label Semantik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Semantik. Tampilkan semua postingan

Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi, makna denotatif ini sebenarnya sama dengan makna leksikal. Umpamanya kata 'babi' bermakna denotatif sejenis binatang yang biasa diternakkan untuk dimanfaatkan dagingnya. Kata 'kurus' bermakna denotatif keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal. Kata 'rombongan' bermakna denotatif sekumpulan orang yang mengelompok menjadi satu kesatuan.

Kalau makna denotatif mengacu pada makna asli atau makna sebenarnya dari sebuah kata atau leksem maka makna konotatif adalah makna lain yang "ditambahkan" pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Umpamanya kata 'babi' pada contoh di atas, bagi orang yang beragama Islam atau di dalam masyarakat Islam mempunyai konotasi yang negatif, ada rasa atau perasaan yang tidak enak bila mendengar kata itu. Kata 'kurus' juga pada contoh di atas, berkonotasi netral, artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan. Tetapi kata 'ramping' yang sebenarnya bersinonim dengan kata 'kurus' itu memiliki konotasi positif, nilai rasa yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping. Sebaliknya, kata 'kerempeng' yang sebenarnya bersinonim dengan kata 'kurus' dan 'ramping' itu mempunyai konotasi yang negatif, nilai rasa yang tidak mengenakkan. Orang akan merasa tidak enak kalau dikatakan tubuhnya kerempeng.

Dari contoh kata kurus, ramping, dan kerempeng, dapat kita simpulkan bahwa ketiga kata itu secara denotatif mempunyai makna yang sama atau bersinonim, tetapi ketiganya memiliki konotasi yang tidak sama; kurus berkonotasi netral, ramping berkonotasi positif, dan kerempeng berkonotasi negatif.

Berkenaan dengan masalah konotasi ini, satu hal yang harus Anda ingat adalah bahwa konotasi sebuah kata bisa berbeda antara seseorang dengan orang lain, antara satu daerah dengan daerah lain, atau antara satu masa dengan masa yang lain. Begitulah dengan kata babi di atas, berkonotasi negatif bagi yang beragama islam, tetapi tidak berkonotasi negatif bagi yang tidak beragama islam.

Sumber: Linguistik Umum (Abdul Chaer) terbtan Rineka Cipta.

Makna Referensial dan Nonreferensial

Sebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada referensnya, atau acuannya. Kata-kata seperti kuda, merah, dan gambar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena ada acuannya dalam dunia nyata. Sebaliknya, kata-kata seperti dan, atau, dan karena termasuk kata-kata yang tidak bermakna referensial, karena kata-kata itu tidak memiliki referens.

Berkenaan dengan acuan ini ada sejumlah kata yang disebut kata-kata deiktik, yang acuannya tidak menetap pada suatu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu pada maujud yang lain. Yang termasuk kata-kata deiktik ini adalah kata-kata yang termasuk pronomina, seperti dia, saya, dan kamu; kata-kata yang menyatakan ruang seperti di sini, di sana, dan di situ; kata-kata yang menyatakan waktu seperti sekarang, besok, dan nanti; dan kata-kata yang disebut kata penunjuk, seperti ini dan itu. Perhatikan ketiga kata saya pada kalimat-kalimat berikut yang acuannya tidak sama.

1) "Tadi pagi saya bertemu dengan Pak Ahmad." kata Ani kepada Ali.
2) "O, iya?" sahut Ali, "saya juga bertemu beliau tadi pagi."
3) "Di mana kalian bertemu beliau?" tanya Amin, "saya sudah lama tidak berjumpa dengan beliau"

Jelas pada kalinat 1 kata saya mengacu pada Ani, pada kalimat 2 mengacu pada Ali, dan pada kalimat 3 mengacu pada Amin. 

Sumber: Linguistik Umum (Abdul Chaer) terbitan Rineka Cipta

Makna Leksikal, Gramatikal, dan Kontekstual

Makna Leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. Misalnya, leksem kuda memiliki makna leksikal 'sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai'; pensil bermakna leksikal 'sejenis alat tulis yang terbuat dari kayu dan arang'; dan air bermakna leksikal 'sejenis barang cair yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari'. Dengan contoh itu dapat juga dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya. Kamus-kamus dasar biasanya hanya memuat makna leksikal yang dimiliki oleh kata yang dijelaskannya. Oleh karena itulah barangkali banyak orang yang mengatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang ada di dalam kamus. Pendapat ini, kalau begitu, memang tidak salah, namun memuat makna-makna lain yang bukan leksikal, seperti makna kias dan makna-makna yang terbentuk secara metaforis.

Makna gramatikakl baru ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi. Umpamanya, dalam proses afiksasi prefiks ber- dengan dasar baju melahirkan makna gramatikal 'mengenakan baju' atau 'memakai baju'; dengan dasar dasar kuda melahirkan makna gramatikal 'mengendarai kuda'; dengan dasar rekreasi melahirkan makna gramatikal 'melakukan rekreasi'. Contoh lain, proses komposisi dasar sate dengan dasar ayam melahirkan makna gramatikal 'bahan'; dengan dasar madura melahirkan makna gramatikal 'asal'; dengan dasar lontong melahirkan makna gramatikal 'bercampur'; dan dengan kata Pak Kumis (nama pedagang sate) melahirkan makna gramatikal 'buatan'. Sintaksisasi kata-kata adik, menendang, dan bola melahirkan makna gramatikal: adik bermakna pelaku, menendang bermakna aktif, bola bermakna 'sasaran'. Sintaksisasi kata-kata adik, menulis, dan surat melahirkan makna gramatikal: adik bermakna pelaku, menulis bermakna aktif, surat bermakna hasil.

Makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang berada di dalam satu konteks. Misalnya makna kata jatuh yang dibicarakan sebagai contoh pada kalimat:

1) Rambut di kepala nenek belum ada yang putih.
2) Sebagai kepala sekolah dia harus menegur murid itu.
3) Nomor teleponnya ada pada kepala surat itu.

Makna konteks dapat juga berkenaan dengan situasinya, yakni tempat, waktu, dan lingkungan bahasa itu. Sebagai contoh adalah kalimat, 

"Tiga kali empat berapa?"

apabila dilontarkan di kelas tiga SD sewaktu mata pelajaran matematika berlangsung maka akan dijawab "dua belas". Kalau dijawab lain maka jawaban itu pasti salah. Namun kalau pertanyaan itu dilontarkan kepada tukang foto di tokonya atau di tempat kerjanya maka pertanyaan itu mungkin akan dijawab, "dua ratus", atau mungkin juga "tiga ratus", atau bisa juga jawaban lain. Mengapa bisa begitu, sebab pertanyaan itu mengacu pada biaya pembuatan pasfoto yang berukuran tig kali empat cm.

Sumber: Linguistik Umum (Abdul Chaer) terbitan Rineka Cipta.

Postulat Mengenai Tata Bahasa dan Pragmatik

Berbicara mengenai hubungan tata bahasa dengan pragmatik pada prinsipnya berbicara mengenai persamaan dan perbedaan keduanya. Pada dasarnya tata bahasa (yang merupakan sistem bahasa yang formal dan abstrak) dan pragmatik (yang merupakan prinsip-prinsip penggunaan bahasa) merupakan dua ranah yang komplementer, yang saling melengkapi di dalam linguistik. Kita tidak dapat memahami hakikat bahasa dengan baik tanpa menelaah kedua ranah ini beserta interaksi antara keduanya.

Geoffrey N. Leech (1983:5) telah mengemukakan beberapa postulat atau patokan mengenai tata bahasa dan pragmatik seperti berikut ini:

Postulat 1: Representasi semantik suatu kalimat berbeda dari interpretasi pragmatiknya.

Postulat 2: Semantik bersifat tunduk pada kaidah (=gramatik) sedangkan pragmatik bersifat diatur oleh prinsip (=retoris).

Postulat 3: Kaidah-kaidah tata bahasa pada dasarnya bersifat konvensional, sedangkan prinsip-prinsip pragmatik umum pada dasarnya bersifat nonkonvensional.

Postulat 4: Pragmatik umum menghubungkan pengertian (atau makna gramatis) sesuatu ucapan dengan kekuatan pragmatik (ilokusi)nya. Hubungan ini secara relatif dapat langsung atau tidak langsung.

Postulat 5: Persesuaian-persesuaian gramatik dibatasi dengan pemetaan sedangkan persesuaian-persesuaian pragmatik dibatasi dengan aneka masalah beserta pemecahannya.

Postlat 6: Penjelasan-penjelasan gramatik pada dasarnya bersifat formal sedangkan penjelasan-penjelasan pragmatik terutama sekali bersifat fungsional.

Postulat 7: Tata bahasa bersifat ideasional, pragmatik bersifat interpersonal dan tekstual.

Postulat 8: Pada umumnya tata bahasa dapat diperikan dengan bantuan kategori-kategori tersendiri dan tertentu; pragmatik dapat diperikan dengan bantuan nila-nilai yang berkesinambungan dan tidak tentu.

Sumber: Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.

Pengertian Makna

Menurut Ferdinan de Saussure, setiap tanda linguistik terdiri atas dua unsur, yaitu signifie (yang diartikan) dan signifiant (yang mengartikan). Yang diartikan adalah konsep atau makna dari sesuatu tanda bunyi, sedangkan yang mengartikan tidak lain adalah bunyi-bunyi itu, yang terbentuk dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan. Dengan kata lain, setiap tanda linguistik terdiri atas unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unrus tersebut adalah unsur dalam bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk pada sesuatu referen yang merupakan unsur luar bahasa (ekstralingual).

Di samping itu, makna juga sering diartikan sebagai pertautan yang ada di antara unsur-unsur bahasa itu (terutama kata-kata). Makna menurut Palmer hanya menyangkut intrabahasa. Sejalan dengan pendapat tersebut. Lyons menyebutkan bahwa mengkaji atau memberikan makna suatu kata ialah memahami kajian kata tersebut yang berkenaan dengan hubungan-hubungan makna yang membuat kata tersebut berbeda dengan kata lain. Makna sebagai penghubung bahasa dengan dunia luar sesuai dengan kesepakatan para pemakainya, sehingga dapat saling mengerti. Makna memiliki tiga tingkat keberadaan, yaitu:
a. pada tingkat pertama, makna menjadi isi dari suatu bentuk kebahasaan,
b. pada tingkat kedua makna menjadi isi dari suatu bahasa,
c. pada tingkat ketiga makna menjadi isi komunikasi yang mampu membuahkan informasi tertentu.

Pada tingkat pertama dan kedua dilihat dari segi hubungannya dengan penutur, sedangkan yang ketiga lebih ditekankan pada makna dalam komunikasi. Mempelajari makna pada hakikatnya mempelajari bagaimana setiap pemakai bahasa daam suatu masyarakat bahasa saling mengerti.

Sumber: Handout Semantik, Drs. Hari Bakti Mardikantoro, M.Hum.

Jenis Semantik


Sudah disebutkan bahwa yang menjadi objek studi semantik adalah makna bahasa. Lebih tepat lagi, makna satuan-satuan bahasa seperti kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Kalau bahasa itu memiliki tataran-tataran analisis, yaitu fonologi, morfologi, dan sintaksis, maka persoalan kita sekarang adalah bagian-bagian mana dari tataran analisis itu yang mengandung masalah semantik atau memiliki persoalan makna. Untuk menjawabnya, dapat dilihat pada bagan di atas.

Bagan tersebut memperlihatkan kedudukan serta objek studi semantik, yaitu makna dalam keseluruhan sistematika bahasa. Tampak tidak semua tataran bahasa memiliki masalah semantik. Leksikon dan morfologi memiliki, tetapi fonetik tidak.

Pengertian Semantik

Semantik yang semula berasal dari bahasa Yunani, mengandung makna to signify atau memaknai. Sebagai istilah teknis, semantik mengandung pengertian "studi tentang makna". Dengan anggapan bahwa makna menjadi bagian dari bahasa, maka semantik merupakan bagian dari linguistik. Seperti halnya bunyi dan tata bahasa, komponen makna dalam hal ini juga menduduki tingkatan tertentu. Apabila komponen bunyi umumnya menduduki tingkat pertama, tata bahasa pada tingkat kedua, maka komponen makna menduduki tingkat paling akhir. Hubungan ketiga komponen itu sesuai dengan kenyataan bahwa (a) bahasa pada awalnya merupakan bunyi-bunyi abstrak yang mengacu pada adanya lambang-lambang tertentu, (b) lambang-lambang merupakan seperangkat sistem yang memiliki tataan dan hubungan tertentu, dan (c) seperangkat lambang yang memiliki bentuk dan hubungan itu mengasosiasikan adanya makna tertentu.

Sumber: Aminuddin. 2011. Semantik. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yasmika Devi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger