Bahasa adalah sistem dan bahasa adalah lambang, maka bahasa adalah bunyi, maka seluruhnya dapat dikatakan bahwa bahasa adalah sistem lambang bunyi. Jadi, sistem bahasa itu berupa lambang yang wujudnya berupa bunyi. Masalahnya sekarang adlaah apakah yang dimaksud dengan bunyi itu dan apakah semua bunyi itu termasuk dalam lambang bahasa.
Kata bunyi yang sering sukar dibedakan dengan kata suara, sudah biasa kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Secara teknis, menurut Kridalaksana bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-peribahan dalam tekanan udara. Bunyi ini bisa bersumber pada gesekan atau benturan benda-benda, alat suara pada binatang dan manusia. Lalu, yang dimaksud dengan bunyi pada bahasa atau yang termasuk lambang bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Jadi, bunyi yang bukan dihasilkan oleh alat ucap manusia tidak termasuk bunyi bahasa. Tetapi juga tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa. Bunyi teriak, bersin, batuk-batuk, dan bunyi orokan bukan termsauk bunyi bahasa, meskipun dihasilkan oleh alat ucap manusia, karena semuanya itu tidak termasuk ke dalam sistem bunyi bahasa. Orokan terjadinya tidak disadari dan tidak dapat menyampaikan pesan apapun. Teriakan, bersin, dan batuk-batuk terjadinya bisa disadari dan kadang-kadang dapat juga dijadikan untuk menyampaikan pesan, sama halnya dengan bahasa, tetapi juga bukan bunyi bahasa karena tidak dapat dikombinasikan dengan bunyi-bunyi lain untuk menyampaikan pesan. Lalu, kalau begitu apa yang disebut bunyi bahasa? Bunyi bahasa atau bunyi ujaran adalah satuan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang di dalam fonetik diamati sebagai "fon" dan di dalam fonemik sebagai "fonem".
Kalau bahasa itu berupa bunyi, bagaimanakah masalahnya dengan bahasa tulisan? Dalam linguistik yang disebut bahasa yang primer adalah yang diucapkan. Bahasa yang dilisankan inilah yang pertama-tama menjadi objek linguistik. Sedangkan bahasa tulis, meskipun tidak dilupakan dalam kajian linguistik, hanyalah bersifat sekunder. Bahasa tulis sebenarnya hanyalah rekaman dari bahasa lisan.
Bahwa hakikat bahasa adalah bunyi, atau bahasa lisan, dapat kita saksikan sampai kini banyak sekali bahasa di dunia ini, termasuk di Indonesia, yang hanya punya bahasa lisan; tidak punya bahasa tulis, karena bahasa-bahasa tersebut tidak atau belum mengenal sistem aksara.
Sumber: Linguistik Umum terbitan Rineka Cipta (Abdul Chaer)
Posting Komentar