Tampilkan postingan dengan label Psikolinguistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikolinguistik. Tampilkan semua postingan

Sistem Komunikasi Hewan (Lumba-Lumba)

Penelitian terhadap alat komunikasi lumba-lumba (dolfin) menunjukkan bahwa lumba-lumba menggunakan bunyi vokal yang mirip bunyi "ceklekan" (Inggris: Clicking sound) untuk mengetahui dengan tepat lokasi objek-objek yang mungkin menghalangi perjalanannya di dalam laut. Selain bunyi vokal itu, lumba-lumba bisa mengeluarkan bunyi seperti bersiul dan bunyi "berkuak" (Inggris: squawk). Kedua jenis bunyi ini berkenaan dengan situasi emosi lumba-lumba itu. Bunyi siulan yang tinggi nadanya lalu turun merendah menunjukkan bahwa lumba-lumba itu minta tolong karena berada dalam keadaan bahaya. Ada juga bunyi untuk memanggil lawan jenisnya untuk keperluan biologis. Bunyi lumba-lumba ini dapat merambat dengan cepat di dalam air sehingga dapat ditangkap dengan segera oleh lumba-lumba lainnya. Eksperimen yang dilakukan membuktikan bahwa lumba-lumba tidak berkomunikasi sesamanya dengan bunyi-bunyi tersebut dan kalaupun tampak bahwa lumba-lumba itu berkomunikasi dengan manusia adalahs ebagai hasil respon-respon yang telah dilatihkan (conditioned responses)

Sumber: Chaer, Abdul dan Leoir Agustina. Sosiolinguistik: Pengantar Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Terkait:
Sistem Komunikasi Lebah
Sistem Komunikasi Burung

Sistem Komuniaksi Hewan (Lebah)

Penelitian terhadap sistem komunikasi lebah madu yang dilakukan oleh Von Frisch (Akmajian, 1979) menunjukkan bahwa lebah pekerja (yang bertugas mencari makan) setelah keluar dari sarangnya dan memberi tahu lebah-lebah lainnya di mana ada sumber makanan. Pemberian informasi mengenai tempat adanya sumber makanannya itu dilakukan dengan cara melakukan tarian di dinding sarangnya. Dalam hal ini ada tiga macam tarian, yaitu (1) membuat lingkaran, (2) membuat bentuk seperti bulan sabit, (3) membuat gerakan-gerakan dengan ekor. Tarian (1) dilakukan apabila sumber makanan itu dekat sekali, yakni sekitar 20 kaki atau 613 cm. Bagaimana mutu makanan ditunjukkan dengan jumlah mengulangan tarian lingkaran itu dan semangat dalam melakukan tarian itu. Tarian (2) dilakukan dengan membuat angka delapan pada dinding sarang dan sudut yang terbentuk oleharah bentuk bulan sabit dengan garis vertikal menunjukkan tempat makanan ditinjau dari matahari. Jadi, tarian sabit itu memberi informasi mengenai jarak (kira-kira 20-60 kaki atau 613-1839 cm), arah, dan mutu makanan. Tarian (3) memberi informasi mengenai jarak lokasi makanan yang ditandai dengan jumlah pengulangan pola tari. Makin lambat pola pengulangannya, makin jauh jarak lokasi makanan dari sarang lebah. Dalam penelitian alat komunikasi lebah ini, pernah dilakukan seekor lebah ditangkap dari sarangnya lalu dilepas langsung ke tempat makanan. Ternyata, dia dapat kembali ke sarangnya, tetapi tidak dapat melakukan tarian apa-apa. Artinya, dia tidka tahu jarak ke tempat makanan itu dari sarangnya.

Sistem komunikasi lebah ini memang sangat efektif dan dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dalam jumlah yang banyak. Namun, pesan yang disampaikan hanya terbatas untuk masalah makanan, tidak untuk masalah lain. Alat komunikasi lebah itu bukan diperoleh dari belajar, atau terjadi karena adanya rangsangan dari luar, melainkan dikuasai secara alamiah sejak lahir.

Sumber: Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Terkait:
Sistem Komunikasi Burung
Sistem Komunikasi Lumba-Lumba

Sistem Komunikasi Hewan (Burung)

Bagaimana sistem komunikasi hewan itu?

Pernah dilakukan penelitian terhadap proses komunikasi lebah, burung, ikan lumba-lumba, dan simpanse. Secara  singkat, hasil penelitian itu (diangkat dari Fromkin dan Rodman 1974 dan Akmajian dkk. 1979) dapat dipaparkan sebagai berikut (Chaer, 2010).

Penelitian terhadap sistem komunikasi berbagai jenis burung menyimpulkan bahwa dalam sistem komunikasi burung yang berupa komunikasi "bunyi burung" dapat dibedakan adanya dua macam bentuk komunikasi, yaitu (1) panggilan (bird call) dan (2) nyanyian (bird song). Jenis komunikasi burung yang disebut panggilan berupa bunyi yang terdisi atas satu nada pendek atau lebih, yang isinya atau pesannya sudah ditentukan sejak lahir. Isi atau pesan ini berhubungan dengan bahaya, makanan, bersarang, dan berkelompok. Panggilan mempunyai makna, jadi merupakan satu bentuk komunikasi. Namun, hanya terbatas pada keadaan "sekarang" dan "di sini". Tidak ada panggilan untuk masa lalu dan masa yang akan datang,s erta tempat yang lain. Dengan demikian dapat dikatakan bentuk komuniksai burung yang disebut panggilan ini tidak dapat berubah, disusun kembali untuk hal yang lain. Oleh karena itu, dapat dikatakan tidak ada panggilan burung yang menunjukkan kreativitas seperti pada bahasa manusia. Bentuk komunikasi burung yang disebut nyanyian bunyinya lebih panjang daripada panggilan dan memiliki pola-pola nada yang lebih kompleks daripada panggilan. Nyanyian ini digunakan untuk dua maksud, yaitu (1) untuk menandai penguasaan suatu daerah kekuasaan burung, dan (2) untuk menarik perhatian jenis kelamin lain dengan tujuan biologis. Meskipun nyanyian burung tampaknya kompleks, tetapi tidak dapat diuraikan atau disegmentasikan dalam bagian-bagian yang bermakna seperti bahasa manusia, yang dapat diuraikan menjadi frase, kata, dan fonem.

Burung-burung dari jenis yang sama, tetapi tinggal di daerah yang berlainan ternyata dapat mengungkapkan pesan yang sama dengan bunyi panggilan yang berlainan. Hasil penelitian itu menyimpulkan juga, bahwa kemampuan untuk berkomunikasi dengan panggilan dan nyanyian itu sudah dikuasai sejak lahir, tetapi hanya versi dasarnya saja. Kemampuan dan penguasaan akan panggilan dan nyanyian itu akan diperolehnya kelak dari belajar.

Beberapa jenis burung, termasuk beo dan kakak tua dapat menirukan bunyi burung dan juga suara manusia kalah burung itu dikurung untuk dipelihara. Tetapi kemampuannya hanyalah sampai pada tahap menirukan bunyi (termasuk ujaran) yang pernah didengarnya. Burung-burung itu tidak mempunyau kemampuan untuk membuat kalimat-kalimat baru dari kata-kata yang sudah dapat ditirukannya. Jadi jelas berbeda dengan manusia yang dapat membuat kalimat-kalimat baru dalam jumlah yang tidak terbatas, yang belum pernah didengar atau dibuat orang dari kata-kata yang sudah diketahuinya.

 Sumber: Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

terkait: Sistem Komunikasi Lumba-Lumba
Sistem Komunikasi Lebah

Perbedaan Pemerolehan Bahasa dari Pembelajaran Bahasa

Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dari pembelajaran bahasa (language learning). Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seseorang anak mempelajari bahasa kedua, setelah dia memperoleh pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2005).

Perbedaan pemerolehan bahasa dari pembelajaran juga disampaikan oleh Subyantoro (2012: 91) bahwa perbedaan antara keduanya muncul pada suasana kemampuan. Suasana itu ditandai oleh (1) kesadaran pembelajaran, (2) waktu, (3) tempat, (4) motivasi dan tujuan, (5) praktik dan pelatihan, (6) umur pembelajaran, (7) alat bantu kemampuan, dan (8) pengorganisasian.

Kemampuan bahasa pertama (B1) berlangsung sejak lahir, tetapi kemampuan B2, umumnya dimulai saat pembelajaran masuk bangku sekolah. Kesempatan untuk mencoba berbahasa pada kemampuan B1 waktunya amat luas, sedangkan pada B2 amat terbatas. Waktu ini berkaitan dengan tempat. Manusia  dapat memperoleh B1-nya di mana saja, sedangkan kemampuan B2 diperoleh di sekolah, dalam lingkup tempat yang lebih sempit. Pemerolehan B1 didorong oleh motivasi mental: mendapat nilai baik, menghindari rasa malu, dan sebagainya. Pemerolehan B1 memiliki kesempatan praktik lebih banyak daripada B2. Pemerolehan B1 berada pada periode kritis, sedangkan pemerolehan B2 pada umumnya setelah melewati periode kritis.

Sumber:

Chaer, Abdul. 2005. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.

Subyantoro, 2012. Psikolinguiatik: Kajian Teoretis dan Implementasinya. Semarang: Rumah Indonesia.

Pengertian Pemerolehan Bahasa Anak

Frase pemerolehan bahasa terbentuk dari kata "pemerolehan" dan kata "bahasa". Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), pemerolehan bermakna proses, cara, perbuatan memperoleh. Kata memperoleh tersebut di dalam KBBI bermakna mencapat (mencapai dst) sesuatu dengan usaha. Dengan demikian maka pemerolehan bermakna proses, cara, perbuatan mencapat sesuatu dengan usaha. Karena frasa pemerolehan bahasa berpola DM maka kata bahasa menerangkan kata pemerolehan, sehingga frasa pemerolehan bahasa berarti proses, cara, perbuatan memperoleh bahasa dengan usaha.

Pemerolehan bahasa (bahasa Inggris: language acquisition) adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Kapasitas ini melibatkan berbagai kemampuan seperri sintaksis, fonetik, dan kosakata yang luas. Bahasa yang diperoleh bisa berupa vokal seperti pada bahasa lisan atau manual seperti pada bahasa isyarat. Pemerolehan bahasa biasanya merujuk pada pemerolehan  bahasa pertama yang mengkaji pemerolehan anak terhadap bahasa ibu mereka dan bukan pemerolehan bahasa kedua yang mengkaji pemerolehan bahasa tambahan oleh anak-anak atau orang dewasa.

Jadi, pemerolehan bahasa merupakan proses manusia mendapat kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman komunikasi berkenaan dengan bahasa pertama.

Sejarah Kajian Pemerolehan Bahasa

Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, raja Mesir Psammetichus memiliki teori bahwa apabila seorang anak dipisahkan dari lingkungan bahasa manusia, kata pertama yang akan diucapkannya adalah kata yang berasal dari bahasa mahluk tertua di dunia. Psammeticus 1 menyuruh bawahannya untuk mengisolasi dua dari anaknya untuk mengetahui bahasa apa yang akan dikuasai anak-anak itu. Sebagai raja Mesir, ia mengharapkan bahasa yang keluar dari anak-anak itu adalah bahasa Arab. Namun ternyata kata pertama yang dikatakan oleh anak itu bukanlah bahasa Mesir, melainkan bahasa Phrygian. Ia akhirnya menyimpulkan bahwa bahasa Phrygian lebih kuno daripada bahasa Mesir. banyak yang menyanggah teori ini.
Selain yang dilakukan raja Mesir dalam menemukan bahasa tertua dalam pemerolehan bahasa pertama anak itu, Charles Darwin pada tahun 1977 juga mencatat perkembangan bahasa anak lelakinya.

Ingram (1989) membagi perkembangan studi tentang pemerolehan bahasa menjadi tiga tahap, yaitu periode buku harian, periode sampel besar, dan periode kajian longitudinal (Chaer, 2005).

Periode buku harian berlangsung tahun 1876 sampai tahun 1926. Pada masa ini peneliti mencatat apapun yang diujarkan anak di dalam buku harian, kemudian data tersebut dianalisis untuk disimpulkan.

Periode sampel besar berlangsung tahun 1926 sampai tahun 1957. Untuk mendapat hasil yang sahih dan akurat diperlukan sampel yang besar. Ada peneliti yang memakai sampai 480 anak untuk mengetahui keterampilan-keterampilan tertentu pada anak (Templin dalam Chaer, 2005).

Periode kajian longitudinal dimulai dengan munculnya buku Chomsky Syntactic Structures (1957) yang merupakan titik awal lahirnya aliran mentalisme pada ilmu linguistik. Ciri utama periode ini adalah bahwa studi longitudinal memerlukan jangka waktu yang panjang karena yang diteliti adalah perkembangan sesuatu yang sedang dikaji dari satu waktu sampai ke waktu yang lain (Chaer, 2005). Selain itu, jumlah subjek juga lebih sedikit daripada periode sampel besar yang dilakukan oleh aliran behavioristik.

Meskipun telah dibagi menjadi tiga periode, bukan berarti setelah periode buku harian berakhir data-data yang telah dicatat di buku harian tidak digunakan lagi. Hal ini dibuktikan dengan karya Leopold yang ditulis tahun 1939 yang datanya adalah dari buku harian yang menurut Ingram berakhir pada tahun 1926.

Sumber:
 Chaer, Abdul. 2005. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia: Jakarta:      Yayasan Obor Indonesia.


Subdisiplin Psikolinguistik

Psikolinguistik telah berkembang pesat sehingga melahirkan beberapa subdisiplin psikolinguistik. Subdisiplin Psikolinguistik sebagai berikut.

a. Psikolinguistik Teoretis
Subdisiplin ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses-proses mental manusia dalam berbahasa, misalnya dalam rancangan fonetik, rancangan pilihan kata, rancangan sintaksis, rancangan wacana, dan rancangan intonasi.

b. Psikolinguistik Perkembangan
Subdisiplin ini berkaitan dengan pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama (B1) maupun pemerolehan bahasa kedua (B2). Subdisiplin ini mengkaji proses pemerolehan fonologi, proses pemerolehan semantik, dan proses pemerolehan sintaksis secara berjenjang, bertahap, dan terpadu.

c. Psikolinguistik Sosial
Subdisiplin ini berkenaan dengan aspek-aspek sosial bahasa. Bagi suatu masyarakat bahasa, bahasa itu bukan hanya merupakan suatu gejala dan identitas sosial, tetapi juga merupakan suatu ikatan batin dan nurani yang sukar ditinggalkan.

d. Psikolinguistik Pendidikan
Subdisiplin ini mengkaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di sekolah. Umpamanya peranan bahasa dalam pengajaran membaca, pengajaran kemahiran berbahasa, dan pengetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa dalam proses memperbaiki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan

e. Psikolinguistik Neurologi
Subdisiplin ini mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa, dan otak manusia. Para pakar neurologi telah berhasil menganalisis struktur biologis otak serta telah memberi nama pada bagian-bagian struktur otak itu. Namun ada pertanyaan yang belum dijawab secara lengkap, yaitu apa yang terjadi dengan masukan bahasa dan bagaimana keluaran bahasa diprogramkan dan dibentuk di dalam otak.

f. Psikolinguistik Eksperimen
Subdisiplin ini meliput dan melakukan eksperimen dalam semua kegiatan bahasa dan berbahasa pada satu pihak dan perilaku berbahasa dan akibat berbahasa di pihak lain.

g. Psikolinguistik Terapan
Subdisiplin ini berkaitan dengan penerapan dari temuan-temuan enam subdisiplin psikolinguistik di atas dalam bidang-bidang tertentu yang memerlukannya. Yang termasuk subdisiplin ini ialah psikologi, linguistik, pertuturan dan pemahaman, pembelajaran bahasa, pengajaran membaca neurologi, psikiatri, komunikasi, dan susastra.

Sumber: Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik. Jakarta: Rineka Cipta.

Induk Disiplin Psikolinguistik

Karena nama psikolinguistik merupakan gabungan dari psikologi dan linguistik maka muncul pertanyaan apa induk disiplin psikolinguistik itu, linguistik atau psikologi?

Beberapa pakar berpendapat psikolingusitik berinduk pada spikologi karena istilah itu merupakan nama baru dari psikologi bahasa yang telah dikenal beberapa waktu sebelumnya. Namun di Amerika Serikat pada umumnya, psikolinguistik dianggap sebagai cabang dari linguistik, meskipun Noam Chomsky cenderung menempatkan psikolinguistik sebagai cabang psikologi. Di Perancis pada tahun enam puluhan psikolinguistik dikembangkan oleh pakar psikologi, sedangkan di Inggris psikolinguistik dikembangkan oleh pakar linguistik yang bekerja sama dengan beberapa pakar psikologi dari Inggris dan Amerika Serikat. Di Rusia psikolinguistik telah dikembangkan oleh para pakar linguistik pada Institut Linguistik Moskow. Sebaliknya, di Rumania ada kecenderungan menempatkan psikolinguistik sebagai satu disiplin mandiri, tetapi penerapannya lebih banyak diambil oleh linguistik

Di Indonesia, paikolinguistik dikembangkan di bidang linguistik pada fakultas-fakultas pendidikan bahasa dan belum pada program nonkependidikan bahasa. Psikolinguistik yang dikembangkan dalam pendidikan bahasa sudah seharusnya diserasikan dengan perkembangan linguistik dan perkembangan psikologi. Untuk itu dituntut adanya penguasaan yang seimbang akan teori-teori psikologi. Lalu, yang patut dikembangkan dalam pendidikan bahasa adalah subdisiplin psikolinguistik perkembangan dan psikolinguistik pendidikan.

Sumber: Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.

Sejarah Lahirnya Psikolinguistik

Psikolinguistik merupakan ilmu hibrida, yaitu ilmu yang merupakan gabungan antara dua ilmu, yaitu psikoogi dan linguistik. Benih ilmu ini sebenarnya sudah tampak pada permulaan abad ke-20 tatkalan psikolog Jerman Wilhem Wundt menyatakan bahwa bahasa dapat dijelaskan dengan dasar prinsip-prinsip psikologis (Kess, 1992). Pada waktu itu telaah bahasa mulai mengalami perubahan dari sifatnya yang estetik dan kultural ke suatu pendekatan yang "ilmiah".

Sementara itu di benua Amerika kaitan antara bahasa dengan ilmu jiwa juga mulai tumbuh. Perkembangan ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu tahap formatif, tahap linguistik, tahap kognitif, dan tahap teori psikolinguistik, realita, dan ilmu kognitif.

a. Tahap Formatif
Pertengahan abad kedua puluh John W. Gardner, seorang psikolog dari Carnegie Corporation, Amerika, mulai menggagas hibridisasi (penggabungan) kedua ilmu ini. Ide ini kemudian dikembangkan oleh psikolog lain, John B. Carrol, yang pada tahun 1951 menyelenggarakan seminar di Universitas Cornell untuk merintis keterkaitan antara kedua disiplin ilmu ini. Pertemuan itu dilanjutkan pada tahun 1953 di Universitas Indiana. Hasil pertemuan ini membuat gema yang begitu kuat di antara para ahli ilmu jiwa maupun ahli bahasa sehingga banyak penelitian yang kemudian dilakukan terarah pada kaitan antara kedua ilmu ini. Pada saat itulah istilah psycholinguistics pertama kali dipakai. Kelompok ini mendukung penelitian mengenai relativitas bahasa maupun universal bahasa. Pandangan tentang relativitas bahasa seperti dikemukakan oleh Benjamin Lee Whorf (1956) dan universal bahasa seperti dalam karya Greenberg (1963) merupakan karya-karya pertama dalam bidang psikolinguistik.

b. Tahap Linguistik
Perkembangan ilmu linguistik yang semula berorientasi pada aliran behaviorisme dan kemudian beralih ke mentalisme pada tahun 1957 dengan diterbitkannya buku Chomsky, Syntactic Structures,  dan kritik tajam dari Chomsky terhadap behavioristik B.F. Skinner telah membuat psikolinguistik sebagai ilmu yang banyak diminati orang. Hal ini semakin berkembang karena pandangan Chomsky tentang universal bahasa, khususnya pertanyaan "mengapa anak di manapun juga memperoleh bahasa mereka dengan memakai strategi yang sama".

Kesamaan dalam strategi ini didukung juga oleh berkembangnya ilmu neurolinguistik dan biolinguistik. Studi dalam neurolinguistik menunjukkan bahwa manusia ditakdirkan memiliki otak yang berbeda dengan primata lain, baik dalam struktur maupun fungsinya. Pada manusia ada bagian-bagian otak yang dikhususkan untuk kebahasaan, sedangkan pada binatang bagian-bagian ini tidak ada. Dari segi biologi manusia juga ditakdirkan memiliki struktur biologi yang berbeda dengan binatang.

Keterkaitan neurobiologi mendukung pandangan Chomsky yang mengatakan bahsa pertumbuhan bahasa pada manusia terprogram secara genetik. Orang telah banyak melakukan penelitian dan mencoba mengajar binatang untuk berbahasa, tetapi tidak satu pun dari mereka yang berhasil. Ketidakberhasilan semua penelitian ini membuktikan bahsa pemerolehan bahasa adalah unik untuk manusia.

c. Tahap Kognitif
Pada tahap ini psikolinguistik mulai mengarah pada peran kognisi dan landasan biologis manusia dalam pemerolehan bahasa. Pelopor seperti Chomsky mengatakan bahwa linguis itu sebenarnya adalah psikolog kognitif. pmerolehan bahasa pada manusia bukanlah penguasaan komponen bahasa tanpa berlandaskan pada prinsip-prinsip kognitif. Tatabahasa, misalnaya, tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terlepas dari kognisi manusia karena konstituen dalam suatu ujaran sebenarnya mencerminkan realita psikologi yang ada pada manusia tersebut.

Ujaran bukanlah suatu urutan bunyi yang linear tetapi urutan bunyi yang membentuk unit-unit konstituen yang hierarkis dan masing-masing unit ini adalah realita psikologis. Frasa orang tua itu, misalnya, membentuk suatu kesatuan psikologis yang tidak dapat dipisahkan. Frasa ini dapat diganti dengan hanya satu kata seperti Achmad atau dia.

Pada tahap ini orang juga mulai bicara tentang peran biologi pada bahasa karena mereka mulai merasa bahwa biologi merupakan landasan di mana bahasa itu tumbuh. Orang-orang seperti Chomsky dan Lennerberg mengatakan bahwa pertumbuhan bahasa seorang manusia itu terkait secara genetik dengan pertumbuhan biologisnya.

d. Tahap Teori Psikolinguistik
 Pada tahap akhir ini psikolinguistik tidak lagi berdiri sebagai ilmu yang terpisah dari ilmu-ilmu lain karena pemerolehan dan penggunaan bahasa manusia menyangkut banyak cabang ilmu pengetahuan yang lain. Psikolinguistik tidak lagi terdiri atas psiko dan linguistik saja tetapi juga menyangkut ilmu-ilmu lain seperti neurologi, filsafat, primatologi, dan genetika.

Neurologi mempunyai peran yang sangat erat dengan bahasa karena kemampuan manusia berbahasa ternyata bukan karena lingkungan tetapi karena kodrat neurologis yang dibawanya sejak lahir. Tanpa otak dengan fungsi-fungsinya yang kita miliki seperti sekarang ini, mustahil manusia dapat berbahasa. Ilmu filsafat juga kembali memegang peran karena pemerolehan pengetahuan merupakan masalah yang sudah dari jaman purba menjadi perdebatan di antara para filosof - apa pengetahuan dan bagaimana manusia memperoleh pengetahuan. Primatologi dan genetika mengkaji sampai seberapa jauh bahasa itu milik khusus manusia dan bagaimana genetika terkait dengan pertumbuhan bahasa.

Dengan kata lain, psikolinguistik kini telah menjadi ilmu yang ditopang oleh ilmu-ilmu lain.

Sumber: Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psikolinguistik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yasmika Devi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger